WONOSARI -- Jamu tradisional merupakan salah satu bentuk kearifan lokal Indonesia yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dipercaya khasiatnya hingga kini. Di tengah perkembangan ilmu farmasi dan maraknya obat-obatan modern, jamu tetap memiliki tempat tersendiri di masyarakat. Bahkan pada masa pandemi, ketika masyarakat mulai lebih memperhatikan kesehatan dan imunitas tubuh, minat terhadap bahan alami kembali meningkat. Kekhawatiran terhadap efek jangka panjang obat kimia mendorong masyarakat untuk kembali melirik pengobatan tradisional sebagai alternatif yang lebih alami.
Di kalurahan budaya, keberadaan obat tradisional menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Tanaman obat keluarga atau TOGA, rempah-rempah, serta empon-empon masih banyak dijumpai di pekarangan rumah warga. Sejak dahulu, masyarakat telah memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber bahan alami untuk menjaga kesehatan keluarga. Hal ini juga sejalan dengan konsep pemanfaatan pekarangan yang dikenal dalam budaya lokal. Di Kalurahan Wonosari, jamu tradisional bahkan menjadi salah satu andalan masyarakat, terutama saat kondisi tubuh mulai menurun atau kurang sehat.
Kalurahan Wonosari sendiri merupakan salah satu dari dua puluh kalurahan yang naik status menjadi kalurahan budaya pada tahun 2022. Terletak di pusat kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, wilayah ini tetap mempertahankan kekayaan budaya di tengah perkembangan kawasan perkotaan. Salah satu potensi budaya yang menonjol adalah produksi jamu tradisional yang tersebar di beberapa padukuhan seperti Gadungsari, Jeruksari, dan Tawarsari.
Salah satu produsen jamu yang konsisten menjaga tradisi ini adalah Ibu Sutarini, pemilik Jamu Bregass di Padukuhan Gadungsari. Usaha ini bahkan telah mendapatkan penghargaan sebagai pelestari warisan budaya dari Kundha Kabudayan Gunungkidul pada tahun 2021. Jamu Bregass merupakan usaha keluarga yang telah berjalan lintas generasi. Dirintis sejak tahun 1974 oleh Mbah Miyem Atmo Taruno, jamu awalnya dijual dengan cara digendong menggunakan tenggok dan dipasarkan keliling ke pasar-pasar tradisional seperti Playen, Munggi Semanu, dan Wonosari. Seiring waktu, usaha ini diteruskan oleh Ibu Sutarini yang tetap menjaga kualitas dan konsistensi produksi hingga sekarang.
Produk yang dihasilkan terbagi menjadi dua jenis, yaitu jamu cair dan jamu kering. Jamu cair biasanya dibuat langsung sesuai pesanan dan dapat diminum di tempat menggunakan cangkir dari batok kelapa. Selain itu, tersedia juga kemasan botol dengan berbagai ukuran yang dapat dibawa pulang dan bertahan hingga beberapa hari jika disimpan dengan baik. Varian jamu cair yang ditawarkan cukup beragam, seperti beras kencur, kunir asem, temulawak, hingga jamu pegal linu.
Sementara itu, jamu kering diproses melalui pengeringan bahan alami dan dikemas secara higienis sehingga memiliki daya simpan lebih lama. Produk ini praktis dan mudah dikonsumsi, dengan berbagai pilihan sesuai kebutuhan, seperti untuk menjaga stamina, mengatasi pegal, hingga perawatan kesehatan tertentu. Selain itu, terdapat pula produk wedang uwuh dalam kemasan sederhana yang banyak diminati karena praktis dan terjangkau, bahkan menjadi pilihan bagi pelaku usaha kuliner sebagai minuman herbal.
Dalam proses pembuatannya, Jamu Bregass menggunakan berbagai bahan alami berupa rempah dan empon-empon yang disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan. Sebagian besar bahan tersebut diperoleh dari lingkungan sekitar, termasuk dari pekarangan rumah warga. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi jamu tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga erat dengan pola hidup dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Upaya pelestarian juga dilakukan melalui kegiatan bersama masyarakat, seperti program penanaman tanaman obat yang melibatkan kelompok PKK. Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan ini juga memperkuat kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan keluarga secara mandiri melalui pemanfaatan bahan alami.
Jamu tradisional di Kalurahan Wonosari bukan sekadar produk kesehatan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang terus dijaga keberlangsungannya. Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap hidup dan menjadi bukti bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam kehidupan masyarak




Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.